Learn From Experience
Experience is the best teacher. Ungkapan yang sangat pas, karena banyak pengalaman yang tidak ada dalam buku. Salah satunya "trust".
Yup, di kantor gwe yang lama, sedang ada krisis "trust". Rasa percaya terhadap pimpinan company (we'll call him Mr. M) yang sudah sangat pudar. Diawali dari krisis keuangan yang dikarenakan besarnya pasak daripada tiang. You know lah kalau dealing with government, jumlah uang yang harus dikeluarkan sebelum uang proyeknya masuk bisa sampai 40%! Mending kalau goal, lha kalau engga? Melayang deh.
Anyway, that's not truly the case. Salah satunya adalah kurang fokus dalam melaksanakan bisnis. Hey, ambil sampling Astra. Perusahaan sebesar itu yang dulunya spesialisasi kendaraan bermotor, lalu merambah ke agro industri, pelayanan finansial, alat-alat berat, teknologi informasi, infrastruktur dan lain-lain, lalu apa yang terjadi? Penjualan kendaraan bermotor menjadi terganggu karena kurangnya fokus. Solusinya? Dipecah dan jalan masing-masing.
Nah, Mr. M ini sukanya loncat partners. Gwe saja sampai lost track who dengan whonya. Internet Service Provider saja sudah loncat-loncat dari Biznet, Netzap dan sekarang Lintasarta. Walau yang terakhir ini promising, tapi yah gimana, tidak ada konsep, schema atau business process yang terukur dan terdokumentasi. Gimana mo jalan, cara kerjanya saja cuma serabutan.
And in the end comes the financial difficulties. Well selama a couple of months, gwe yang membantu memberikan income buat kantor. Gwe udah serasa debt collector, nagihin klien-klien gwe payments for terms yang seharusnya bukan waktunya alias too early. Untungnya klien-klien gwe baik-baik semua, jadilah turun semua uang proyek. One of them valued at 41 million rupiahs.
Masalahnya datang, dimana seharusnya my share of the account is 15 million rupiahs, considering yang menjadi pelaksana dan turun ke lapangan ya gwe terus. In fact, Mr. M ini tidak pernah bertemu dengan klien gwe. Nah, ternyata yang ditransfer ke gue cuma 4 million rupiahs. That really sucks.
Oleh karena itu, gwe sudah jarang banget ke kantor. Ke kantor cuma kalau mau ngurus dokumen-dokumen buat ke Swiss (karena sudah terlanjur pakai PT perusahaan ini) dan training klien-klien gwe. That's it.
Tapi lucunya, sejak gwe ndak masuk kantor gwe, gwe malah jadi banyak banget kerjaan. Malahan, selama dua bulan ini tiap hari tidur jam 4 dan bangun jam 7. Gwe kerja bareng Julius, orangnya benar-benar resourceful dan connected banget. One of them was ATM Performance Show untuk sebuah bank, sebuah web based application berbentuk data warehousing untuk menampilkan statistik dan report. Para IT Div di sana jadi tambah nyantai deh :)
Yang lainnya ada project bikin website pakai Joomla dan membuat komponen khusus. Disini gwe menemukan mambot Runphp yang benar-benar membuat kerjaan gwe jadi tambah enteng, dengan kemampuan untuk menjalankan script PHP langsung dari content items. Uniknya lagi, gwe bikin contentnya pakai CodeIgniter. Jadi kerjaannya cuma include doank. Gampang daripada belajar bikin component Joomla beneran yang lumayan bikin pusing. Gwe paling banter bikin menunya saja. Untuk backendnya tinggal pakai IFRAME saja.
Sebentar lagi gwe juga dapet project valued 45 million rupiah dari previous client gwe dimana gwe baru selesai ngerjain one of their project. I have zero intention of giving the project to my office, dan secara eksplisit gwe sudah bilang klien gwe kalau gwe datang sebagai freelance, and they are okay with it.
Lalu gimana dengan kantor gwe yang lama itu? Well, salesnya sudah duluan cabut. Gwe cabut. And I just found out kalau staff auditingnya juga cabut. Lalu partner Kantor Akuntan Publiknya juga memutuskan hubungan dengan dia, dan mulai bergerilya dengan klien-klien Mr. M buat notifikasi bahwa sudah tidak berafiliasi lagi, yang implikasinya he will lose more clients.
Padahal yah, dia sudah mendapatkan beberapa payment buat auditingnya dia yang nilainya tidak kecil. Kenapa koq ndak ada usaha untuk gain trust dengan menyicil atau apa kek.
Lalu gwe gimana sekarang? Well actually tanggal 20 ini gwe sudah masuk kantor baru ;) And I got an increase of 66% from my previous salary. Bos gwe wanita berdarah Jawa-Spanyol, dan ngobrolnya sudah gwe dan elo, jadi IMHO komunikasi tidak akan bermasalah. Posisi kantor di Kemang, tempat bersarangnya cafes, bistro and restaurants. Now all I have to do is find a good place to eat (baca: murah) for my daily lunch there. Any recommendation?
Well, kesimpulannya, lesson of life, learned!
- Trust is a very big thing. It's hard to get one, and it's harder to maintain, ya ngga Nie? :)
- Kerjakan pekerjaanmu dengan sepenuh hatimu. Jangan malas dengan yang namanya klien, walaupun elo harus berulang kali bolak balik ke kantor mereka. So far, dengan cara ini, gwe dapat memaintain klien dan mereka selalu balik ke gwe lagi.
- Uang. Ini masalah sensitif. Jangan pernah hold back hak orang lain, apalagi kalau orang tersebut sudah melaksanakan kewajibannya dengan baik. Gwe selalu menerapkan sistem back to back. Dalam arti, kalau gwe dapet 40% termin pembayaran, ya gwe juga selalu ngasih 40% payment untuk orang yang kerja dengan gwe, jangan pernah nahan sehari pun. Lagipula I don't trust myself, kalau ngga gini, uangnya suka kepake :P
- If you fail to do one of the above, elo akan kehilangan bukan cuma worker/employee, tapi juga klien. It's a domino effect. Karma bow. Elo jahat ke orang, maka elo akan dijahatin juga. Makanya insyaf pak.
Connected links:








2 Comments:
mudah2an y.b.s. baca dan segera insyaf, hehehe... baru kali ini pengalaman bos ngutang ke anak buah, hahaha... lumayan tuh kalo dia mau bayar lunas utangnya, kita buka reksadana aja lagi buat dana pensiun... :)
rekomendasi tempat makan buat makan siang sehari-hari:
warjog a.k.a warung yogya
jalan benda (madrasah)
richoz.multiply.com/reviews/item/18
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home